Alexia Putellas kembali berdiri di puncak sepak bola wanita. Gelandang asal Spanyol itu meraih Ballon d’Or Féminin 2026 untuk ketiga kalinya, menyamai rekor yang juga dimiliki Aitana Bonmatí. Namun, ada cerita lain yang membuat pencapaian ini terasa lebih besar: Putellas kini bermain untuk London City Lionesses, klub yang ingin menantang kemapanan sepak bola wanita Inggris.
Penghargaan tersebut diberikan atas performanya bersama Barcelona pada musim 2025/2026. Setelah meninggalkan klub yang membesarkan namanya dan pindah ke Inggris pada Juli 2026, Putellas membawa reputasi sebagai salah satu gelandang terbaik generasinya ke kompetisi yang sedang berkembang pesat.
Ballon d’Or Ketiga, Bukti Kualitas yang Tak Lekang oleh Waktu
Putellas bukan nama baru dalam perebutan penghargaan individu tertinggi sepak bola wanita. Ia lebih dulu memenangkannya pada 2021 dan 2022, sebelum kembali menjadi yang terbaik pada 2026.
Musim terakhirnya bersama Barcelona menjadi landasan kuat bagi kemenangan tersebut. Ia berperan dalam keberhasilan klub meraih empat trofi, termasuk Liga Champions Wanita UEFA. Catatan 26 gol dan 15 assist untuk klub serta tim nasional juga memperlihatkan bahwa pengaruhnya tidak berhenti pada urusan mengatur permainan.
Di lapangan, Putellas punya sesuatu yang tidak selalu tertangkap statistik. Ia tahu kapan harus mempercepat serangan, kapan menahan bola, dan kapan mengirim umpan yang membelah pertahanan. Pemain dengan kemampuan membaca permainan seperti ini bisa mengubah arah pertandingan tanpa harus terus-menerus menjadi pencetak gol.
London City Lionesses Mendapat Lebih dari Sekadar Pemain Bintang
Kepindahan Putellas ke London City Lionesses langsung mengangkat profil klub tersebut. Ini bukan transfer biasa yang hanya mengundang perhatian saat pengumuman resmi. Kedatangan pemain dengan koleksi gelar sebesar Putellas menunjukkan keseriusan klub untuk masuk ke lingkaran persaingan papan atas.
Dukungan pemilik klub, Michele Kang, juga menjadi bagian dari gambaran yang lebih besar. London City Lionesses memiliki ambisi membangun tim kompetitif, bukan sekadar numpang lewat di Women’s Super League (WSL).
Putellas sudah mencatat tiga gol dan satu assist dalam tujuh penampilan liga setelah kepindahannya. Angka itu memberi gambaran awal yang menjanjikan, meski kontribusi gelandang sekelas dirinya tidak adil jika hanya diukur dari gol dan assist.
Yang lebih menarik adalah bagaimana ia memengaruhi struktur permainan tim. Putellas dapat menjadi penghubung antara lini tengah dan depan, mengatur sirkulasi bola, sekaligus memancing lawan keluar dari posisinya. Ketika lawan terlalu sibuk menutup ruang geraknya, rekan setim bisa memperoleh kesempatan lebih besar.
Ballon d’Or
Efek Putellas Bisa Membuat Persaingan WSL Berubah
Danielle van de Donk menawarkan kreativitas, Grace Geyoro memberi energi di lini tengah, sementara Delphine Cascarino memiliki kecepatan untuk mengancam pertahanan lawan. Putellas dapat membantu menghubungkan keunggulan-keunggulan tersebut menjadi permainan yang lebih terorganisasi.
Tentu, jangan buru-buru menganggap satu pemain akan langsung mengubah hierarki liga. Chelsea, Manchester City, dan Arsenal memiliki fondasi serta pengalaman bersaing yang tidak bisa disepelekan. London City Lionesses masih harus membuktikan bahwa mereka mampu menjaga performa ketika jadwal semakin padat dan lawan mulai menemukan cara meredam permainan mereka.
Namun, kehadiran Putellas memberi klub tersebut sesuatu yang sulit dibeli dengan uang saja: pengalaman menghadapi tekanan di pertandingan terbesar. Mentalitas itu bisa menjadi pembeda ketika persaingan memasuki fase krusial.
Ballon d’Or Putellas Jadi Panggung Besar bagi Sepak Bola Inggris
Ada dampak yang lebih luas daripada posisi klasemen. Untuk pertama kalinya, pemain yang meraih Ballon d’Or Féminin menerima penghargaan tersebut sebagai pemain klub Inggris. Hal ini memperkuat daya tarik WSL bagi pemain elite dan memberi alasan baru bagi penggemar internasional untuk mengikuti kompetisi tersebut.
Bagi London City Lionesses, tantangannya sekarang jelas: menjadikan sorotan global sebagai modal untuk membangun prestasi yang berkelanjutan. Nama besar bisa mendatangkan perhatian, tetapi hasil pertandinganlah yang menentukan apakah sebuah proyek benar-benar berhasil.
Putellas sudah membuktikan kualitasnya di Barcelona. Kini, panggung Inggris menawarkan ujian berbeda. Jika ia mampu mempertahankan pengaruhnya dan membantu London City Lionesses bersaing dengan klub-klub mapan, Ballon d’Or ketiganya mungkin akan dikenang bukan hanya sebagai pencapaian pribadi, tetapi juga sebagai bagian dari perubahan peta kekuatan WSL.



