Momen canggung di karpet merah Ballon d’Or 2026 memperlihatkan satu kesalahan yang seharusnya bisa dihindari dalam wawancara sepak bola. Michael Owen, mantan striker Liverpool dan Real Madrid, justru harus mengingatkan seorang jurnalis bahwa dirinya pernah memenangkan penghargaan tersebut pada 2001.
Owen mendapat pertanyaan tentang pencapaian terbaiknya di Ballon d’Or ketika menghadiri seremoni di London Palladium. Pertanyaannya terdengar biasa, tetapi respons sang mantan penyerang langsung mengubah suasana wawancara.
“Well, I won it in 2001.”
Jawaban singkat itu sudah cukup menjelaskan persoalannya. Ketika jurnalis tersebut membalas, “You did, right?”, percakapan itu terasa semakin kikuk. Sebab, yang sedang diwawancarai bukan pemain yang sekadar pernah masuk nominasi, melainkan mantan pemenang penghargaan individu paling bergengsi di sepak bola.
Michael Owen Bukan Nama Sembarangan di Ballon d’Or
Bagi penggemar yang mengikuti sepak bola sejak akhir 1990-an, prestasi Owen seharusnya bukan perkara asing. Pada musim 2000/2001, ia menjadi salah satu pemain kunci Liverpool dalam perjalanan meraih tiga trofi: Piala UEFA, Piala FA, dan Piala Liga Inggris.
Owen mencetak 31 gol dalam periode tersebut. Performa itu mengantarkannya meraih Ballon d’Or 2001, mengungguli Raúl González dan Oliver Kahn dalam pemungutan suara.
Prestasi tersebut menempatkan Owen dalam kelompok elite pemain Inggris yang pernah membawa pulang penghargaan itu. Jadi, ketika pertanyaan mendasar tentang rekam jejaknya muncul, respons Owen terasa wajar. Ia hanya menyampaikan fakta yang menjadi bagian penting dari perjalanan kariernya.
Baca juga: Thierry Henry Goda Lamine Yamal, Bintang Barcelona Itu Belum Puas dengan Kopa Trophy!
Riset Sebelum Wawancara, Hal Dasar yang Tak Boleh Terlewat
Dari sudut pandang jurnalistik olahraga, masalah dalam momen ini bukan sekadar salah mengingat nama atau statistik pemain. Persiapan merupakan bagian penting dari wawancara, terutama ketika berhadapan dengan figur yang memiliki sejarah panjang di sepak bola elite.
Jurnalis tidak harus menghafal seluruh statistik setiap pemain. Namun, pencapaian sebesar Ballon d’Or semestinya masuk daftar informasi dasar sebelum wawancara dimulai.
Kesalahan semacam ini juga bisa menggeser fokus pembicaraan. Alih-alih menggali pandangan Owen tentang perkembangan sepak bola atau kemenangan pemain Inggris berikutnya, percakapan justru berputar pada fakta yang seharusnya sudah diketahui sejak awal.
Harry Kane Mengakhiri Penantian Inggris
Seremoni tersebut juga menjadi malam bersejarah bagi Harry Kane. Penyerang Bayern Munich itu memenangkan Ballon d’Or 2026, menjadi pemain Inggris pertama yang meraih penghargaan tersebut sejak Owen pada 2001.
Jarak 25 tahun membuat kemenangan Kane terasa istimewa. Nama Owen kembali relevan dalam pembicaraan tentang sejarah penghargaan tersebut, bukan hanya karena wawancara yang canggung, tetapi juga karena statusnya sebagai pemenang terakhir dari Inggris sebelum Kane.
Owen turut hadir dalam acara itu dan menyerahkan penghargaan Ballon d’Or putri kepada Alexia Putellas.
Pada akhirnya, momen ini memberi pelajaran sederhana bagi dunia media olahraga: mengenal rekam jejak narasumber bukan detail tambahan, melainkan fondasi sebuah wawancara. Dan kali ini, satu kalimat dari Michael Owen sudah cukup untuk menunjukkan apa yang terlewat.
Baca juga: Yamal Kalah dari Kane, Mourinho Bisa Menyindir dari Pinggir Lapangan!